Solusi Selain Asuransi

Solusi Selain Asuransi

Solusi Selain Asuransi sering menjadi pertanyaan. Uang adalah hal yang penting dalam kehidupan masa kini. Sehingga hampir semua orang melakukan segala hal untuk bisa menghasilkan uang. Masalahnya ada beberapa kejadian yang bisa berdampak kepada terganggunya keuangan kita. Misalnya, Menjadi Cacat, Mengalami Sakit Kritis, Masuk Rumah Sakit dan Meninggal dunia. Kejadian- kejadian ini bisa datang begitu saja tanpa bisa diduga.

Satu hal yang harus diingat, Asuransi tidak bermaksud mencegah semua itu terjadi, asuransi hanya mengurangi dampak keuangan yang timbul karena hal-hal tersebut.

Tapi meski semua itu tampaknya mudah dipahami, masih banyak orang yang menolak asuransi dengan bermacam alasan, dan mengira bahwa asuransi bisa diganti dengan hal lain.

Dibawah ini sering kali dikira bisa menggantikan asuransi.

Ada orang yang berkata, “Saya mau nabung atau investasi sendiri saja.”

Menabung/Investasi adalah konteks yang berbeda dengan asuransi. Menabung dan berinvestasi adalah sebuah tujuan untuk mengumpulkan uang dengan tujuan tertentu dan jangka waktu tertentu. Sementara Asuransi bertujuan mempersiapkan uang sekarang juga kalau mengalami beberap kondisi seperti sakit, Meninggal dunia, Sakit Kritis ataupun cacat.

Menabung/berinvestasi kalau digunakan untuk melindungi dari resiko seperti sakit, dananya akan habis. Sementara dengan asuransi, setiap tahun dana yang tersedia akan selalu diperbarui.

Risiko seperti sakit, kecelakaan, dan meninggal, bisa terjadi kapan saja tanpa diduga. Bisa berpuluh tahun ke depan, atau tahun depan, atau bulan depan, esok lusa, bahkan hari ini juga. Sementara tabungan dan investasi itu butuh waktu untuk bisa menjadi banyak. Menabung 1 juta per bulan, untuk menjadi 1 miliar butuh waktu seribu bulan atau 80 tahun. Pertanyaan: bagaimana jika risiko terjadi saat tabungan belum mencukupi?

Tetapi asuransi bisa menyediakan perlindungan keuangan dalam waktu cepat. Begitu polis disetujui, hari itu juga perlindungan telah berlaku. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku, misalnya mengenai masa tunggu. Tapi secara garis besar, asuransi menyediakan uang besar dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan menabung atau berinvestasi sendiri.

Ada juga yang berkata, “Saya akan menjaga kesehatan dan selalu berhati-hati.”

Banyak contoh orang sehat yang tahu-tahu sakit berat tanpa kita duga. Schumacher seorang pembalap handal dan berkali-kali menjadi juara dunia, tetapi sampai sekarang malah terbaring lemah karena kecelakaan ketika bermain ski.

Yomi Wardhana, olahragawan lari. Kegemarannya pada olahraga lari sejak usia belasan tahun tidak membuat co-founder IndoRunners tersebut hidup sehat tanpa penyakit. Justeru serangan jantung datang pada saat usianya masih terbilang muda, baru 35 tahun.

Baca juga : http://poskotanews.com/2016/03/20/olahragawan-yang-sakit-jantung/

Menjaga kesehatan dan selalu berhati-hati itu baik. Tapi apakah bisa menjamin tidak akan sakit atau kecelakaan? Kita mungkin selalu menjaga kesehatan, tapi yang namanya penyakit sering tidak bisa diduga dari mana datangnya, dan itulah sebabnya selalu ada orang sakit setiap hari. Kita mungkin selalu hati-hati, tapi bisa jadi orang lain yang ceroboh, dan itulah makanya selalu ada orang yang kecelakaan setiap hari.

Selain itu, kita pun bisa berasuransi sambil tetap menjaga kesehatan dan selalu hati-hati.

Sekali lagi, asuransi tidak mencegah sakit dan kecelakaan, tapi meminimalkan dampak keuangan yang ditimbulkannya.

Ada juga yang berkata, “Saya mau perbanyak sedekah saja, biar Tuhan yang akan melindungi saya.”

Sedekah itu baik. Tapi apakah asuransi bisa digantikan dengan sedekah?

Tuhan akan membalas sedekah kita, tapi apakah kita tahu bagaimana bentuk balasan dari sedekah itu? Tidak. Bentuk balasan Tuhan bisa bermacam-macam, dan waktunya pun kita tak pernah tahu. Jadi, bagaimana bisa sesuatu yang bentuknya tak diketahui dapat menggantikan asuransi yang bentuknya jelas?

Dan asuransi itu, khususnya yang syariah, pada hakikatnya adalah sedekah yang diformalkan dengan balasan yang sudah ditentukan dalam polis. Tidak ada larangan soal ini. Di luar balasan yang ditentukan, mungkin ada balasan lain lagi dari Tuhan, kita tak pernah tahu. Kita hanya bisa bicara tentang yang tampak.

Dan kita pun bisa berasuransi seraya tetap bersedekah.

Ada lagi yang berkata, “Seandainya potensi ZIS (zakat, infak, sedekah) bisa dimaksimalkan, kita tidak perlu asuransi.”

Untuk ini saya beri contoh. Jika ada sebuah keluarga kaya dengan gaya hidup 50 juta per bulan, lalu kepala keluarganya sakit berat sehingga menghabiskan aset-asetnya dan lalu meninggal dunia sehingga penghasilannya terputus, apakah ada lembaga ZIS atau lembaga sosial lain yang dapat memberikan nafkah kepada keluarga yang ditinggalkan, tidak usah 50 juta tapi cukuplah 10 juta saja per bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum selama seumur hidup? Saya yakin tidak ada yang mampu. Bagaimana jika ada banyak keluarga semacam itu yang minta bantuan ke lembaga ZIS?

Lalu jika anda adalah donatur di lembaga ZIS tersebut, apakah anda rela uang anda digunakan untuk menyubsidi keluarga tersebut? Saya yakin tidak, dan saya sendiri pun jika jadi donatur di lembaga ZIS tersebut tidak akan rela uang saya digunakan untuk menyubsidi orang dengan cara seperti itu. Masih banyak keluarga miskin di Indonesia yang akan cukup bahagia bisa mendapat bantuan beberapa ratus ribu per bulan.

Tapi lembaga asuransi bisa melakukan tugas memberikan nafkah kepada keluarga yang ditinggalkan, dengan syarat sebelumnya sang kepala keluarga ikut program asuransi yang tepat. Untuk menanggung biaya sakit berat supaya tidak menjual aset-aset, programnya ialah asuransi penyakit kritis. Sedangkan untuk perlindungan dari kehilangan pencari nafkah karena meninggal dunia, programnya ialah asuransi jiwa.

Ada juga yang berkata, “Saya akan selalu berdoa kepada Tuhan supaya selalu diberikan kesehatan dan keselamatan.”

Berdoa itu baik. Jika doa kita sungguh-sungguh dan ikhlas, pasti dikabulkan. Tapi seperti halnya sedekah, apakah kita tahu pasti bentuk pengabulan dari doa kita?

Kita pun bisa berasuransi seraya tetap berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh.

Perlu diketahui bahwa asuransi tidak mencegah terjadinya musibah. Jika memang musibah harus terjadi, ya terjadilah. Tapi asuransi bisa mengurangi kerugian keuangan yang timbul akibat musibah.

2 Hal yang Bisa Menggantikan Asuransi

Jadi, apakah asuransi tidak tergantikan?

Tidak juga. Setidaknya ada dua hal yang bisa menggantikan asuransi.

Pertama, Kekayaan

Asuransi memberikan perlindungan dalam bentuk uang atau harta. Jika kita memiliki harta yang banyak, yang nilainya lebih dari cukup untuk menggantikan apa yang bisa diberikan asuransi, kita boleh tidak ikut asuransi.

Orang-orang kaya seperti Dahlan Iskan, Aburizal Bakri, James Riyadi, Chairul Tanjung, Hasyim Djojohadikusumo, atau Sandiaga Uno, tentu tak akan bermasalah jika harus keluar uang beberapa miliar sampai puluhan miliar untuk biaya sakit.

Pertanyaannya, apakah bagi anda saat ini, keluar uang beberapa miliar terasa bukan masalah? Jika masih masalah, berarti anda butuh asuransi.

Kedua, jasa yang banyak.

Jika anda memiliki jasa yang banyak kepada banyak orang, anda pun tidak perlu asuransi.

Para kiai besar di pesantren, para tokoh agama yang dihormati, para intelektual besar, para politisi jujur yang bekerja nyata, seperti Gus Mus, Habib Rizieq Shihab, Habib Quraish Shihab, Aa Gym, Buya Syafii Maarif, Franz Magnis-Suseno, bahkan Jokowi dan Ahok, sudah pasti akan mudah mendapat bantuan jika mereka butuh uang.

Pertanyaannya, apakah saat ini anda sudah berjasa banyak kepada banyak orang? Apakah anda punya murid-murid atau pengikut yang siap membantu kapan saja anda butuh bantuan?

Jika belum mencapai level itu, anda butuh asuransi.

Dan jelas, dua hal itu (harta yang banyak dan jasa yang banyak) tidak bisa dibuat seketika. Butuh kerja keras, dedikasi tanpa henti, dan waktu yang panjang untuk bisa mencapainya.

Jadi, untuk orang-orang pada umumnya, seperti saya, anda, para pembaca artikel ini, asuransi adalah kebutuhan yang tidak bisa digantikan dengan cara lain.

Jadi dua hal inilah yang menjadi Solusi Selain Asuransi, pertanyaannya apakah Anda sudah mencapai level seperti itu? Hanya Anda yang tahu.

Mau tahu Asuransi Hidup yang menarik ? Klik saja di SINI

This entry was posted in Asuransi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *